Kerangka kerja yang dapat dipakai ulang untuk mengoordinasikan otoritas keputusan manusia dan peran-peran AI khusus melalui mission, evidence, review, dan baseline yang ter-governed — supaya percakapan AI berubah jadi pengetahuan rekayasa yang terverifikasi, bukan menguap begitu saja.
Project berbasis AI kehilangan waktu dan kualitas lewat pola yang sama berulang kali.
Discovery berulang — setiap sesi baru menemukan ulang konteks yang sama.
Context tak terkendali — tidak jelas apa yang sudah diverifikasi vs diasumsikan.
Keputusan tak terdokumentasi — alasan di balik pilihan hilang begitu chat berakhir.
Tumpang tindih peran — tidak jelas siapa berwenang memutuskan apa.
Scope drift — pekerjaan melebar diam-diam tanpa otorisasi.
Klaim selesai tak terverifikasi — "sudah beres" tanpa bukti yang bisa diperiksa.
Setiap token yang dipakai harus mengurangi ketidakpastian, menghasilkan bukti terverifikasi, memungkinkan keputusan, atau menghasilkan deliverable yang diterima. Selain itu, sia-sia.
Prinsip ini yang secara aktif menjadi "aturan main" di balik cara Council, Mission Orchestrator, dan Execution Engine bekerja — termasuk di project referensi yang memvalidasinya.
Setiap unit kerja mengikuti rantai yang sama — tidak ada langkah yang dilewati, tidak ada mission baru dibuka sebelum yang aktif ditutup.
Chat adalah lapisan transport — bukan bukti. Repository adalah Source of Truth permanen.
Pemilik goal, pemegang otoritas keputusan akhir. Tidak digantikan oleh AI.
Arsitektur, governance, risiko, acceptance, dan perencanaan mission.
Menerjemahkan directive yang disetujui menjadi execution contract.
Mengerjakan repository, validasi, menghasilkan bukti, dan melapor.
Tidak ada tahap berikutnya yang boleh dimulai sebelum tahap aktif mencapai acceptance gate-nya.
Sembilan dokumen yang menjadi dasar halaman ini — tersimpan utuh di docs/foundation-archive/.